1994 Klikometer Blog

1994 Klikometer Menu

  • Home
  • About
  • Blog
  • Project




PEWAJARAN dari ketidakwajaran di negeri kita ini seakan semakin semarak saja.
Banyakmasyarakat  yang belum tahu bagaimanacara meletakkan jiwa sosial mereka, embel-embel jiwa sosial seperti memenjarakan masyarakat di dalam labirin kebiasan buruk.  Jiwa sosial yang semu tersebut secara tidak langsung mengkonstruksi keadaan dan memberikan kesempatan untuk melakukan pewajaran pada suatu hal yang  tidakwajar.



Cerita ini diambil dari kisah nyata namun nama tokoh disamarkan, mohon maaf apabila ada kesamaan nama ataupun latar serta penulis tidak bermaksud untuk menyinggung SARA.
Aku untuk kamu, kamu untuk aku
Namun semua apa mungkin iman kita yang berbeda
Tuhan memang satu, kita yang tak sama
Haruskah aku lantas pergi? Meski cinta takkan bisa pergi .... (Peri Cintaku : Marcell)
Kalian pasti udah gak asing lagi kan dengan lirik lagu diatas. Ya inilah yang aku rasakan saat ini, sudah lumrah sih tentang sepasang kekasih yang berbeda agama seperti film “Cinta Tapi Beda” yang sempet dicekal itu. Namun, ini kisah jauh lebih menguras air mata dan bikin nyesek, biarkan ku ceritakan ya pengalamanku bersama dia, Kostka Albert Nugroho.
Hey kamu Albert, iya kamu !!! Aku rindu saat kamu menungguku sholat di luar mesjid Al-Furqan. Kamu duduk di bawah pohon duren, iya pohon ituloh tempat favorit kamu. Seperti biasa, kita sih awalnya hanya sekedar teman biasa, teman yang sering diskusi bareng (maklum sekelas dari semester satu), curhat bareng, bahkan kamu orang yang bawel banget nasehatin aku jangan begadang tiap hari. Setiap hari minggu aku ingin sekali kita bisa olahraga pagi biar aku bisa tinggi juga sama kaya kamu, tapi ya aku tau kita tak bisa karena kamu harus bersama Tuhanmu saat itu.
13 Maret 2014 hari dimana aku dan dia menjalani ikatan sebagai seorang “kekasih”. Memang agak sedikit aneh sih soalnya pertama kali aku punya pacar beda keyakinan, aku muslim sedangkan dia Katolik. Seuntai tasbih yang selalu aku lantuntan asma-asma Allah tergenggam erat ditangan ini kadang aku simpan di tas bersamaan dengan Al-Qur’an warna pink yang ibu hadiahkan saat aku beranjak 17 tahun, sementara dia dengan kalung salib yang melingkar dilehernya membuat aku dan dia terasa asing.
Awalnya kami berdua backstreet, tapi ya lama-kelamaan ketahuan juga kami pacaran. Namanya beda keyakinan pastilah banyak pro dan kontra, hidup memang kontradiktif !!! Aku harus menutup telinga dengan segala cercaan yang ada. Sahabatku, teman-temanku di himpunan seakan mengasingkan aku dan Albert. Kalung salibmu memang berbeda dengan tasbihku, untuk memperjuangkan hubungan kita pun butuh pengorbanan. Solusi singkat yang ada dipikiran orang awam sih sebenarnya agak gak masuk akal, ketika sudah frustasi hubungan cinta beda agama yang gak direstuin sama lingkungan biasanya adalah "Udah, kamu pindah agamaku aja". Segitu egoisnya? Kenapa bukan kamu saja yang menawarkan diri buat pindah agama? 
“Cha, emang kamu gak malu gitu punya pacar kaya aku?” Albert menghela nafas.
“Hmmm biasa aja kok, biarin aja mereka mau berkata apa toh kita yang ngejalanin.” Aku menjawab dengan dingin.
“Yasudahlah, ini konsekuensi kita. Aku pun sama, biasa habis dapat sindiran dari teman-temanku yang organisasi ekstra.” Albert sedikit tertunduk.
“Terus kamu malu?” Aku sedikit sinis.
“Ah biasa aja sih, mereka gak tau apa yang sebenarnya.” Albert ketus.
Percakapan itu membuatku sedikit tertegun, kadang aku pun merasa canggung untuk ngobrol-ngobrol masalah keyakinan. Tapi, sungguh dia laki-laki yang begitu baik. Dia tak berani menyentuhku, bahkan kadang ngobrol pun kami berjauhan atau tidak saling menatap tajam. Saat adzan Dzuhur berkumandang dia sengaja mengantarkanku sampai depan mesjid Al-Furqan (seperti biasa), menungguku seraya dia membaca Alkitab di dekat pohon duren. Terkadang aku merasa sungkan, namun dia yang tak pernah keberatan untuk mengantar aku ibadah kesini, walau aku sekalipun belum pernah nganter dia misa ke gereja.
“Bang, maaf ya aku gak bawain kamu daging. Kamu masih puasa kan?” Seraya menyodorkan sate telur dan tempe.
“Ah iya gak apa-apa, segini saja aku sudah bersyukur. Iya aku belum bisa makan daging sebelum Paskah tiba (puasa 40 hari tidak makan daging). Makasih kamu udah ngerti.” Albert terseyum manis.
Dia mengepalkan dan berdoa menggerakkan tangannya membentuk salib, sedangkan aku menadahkan tangan dan membaca doa sebelum makan. Ya beginilah kami, saling menghormati satu sama lain. Namun, aku tak yakin akan bertahan dengannya.
***
04 April 2014 bertepatan hari Jumat pertama di bulan April, semua laki-laki muslim pergi ke mesjid untuk melaksanakan sholat Juma’at sementara kekasihku pergi ke gereja yang ada di bawah sana, ST. Laurentus untuk ibadat Jalan Salib[1]. Aku menunggunya di tengah kesunyian suasana Partere, sesekali aku memandangi foto kekasihku. Kadang aku berpikir harusnya cinta itu membahagiakan, mengangkat diri ini tinggi-tinggi, mengembangkan senyum ini berkali-kali. Tapi, mengapa? Disaat aku menemukannya seolah-olah Tuhan tak adil, namun sesegera aku mengucapkan istighfar.
(Sekitar pukul 14.00 WIB @Bareti)
“Sayang, maaf ya kalo kita gak seperti kekasih lain bisa main kapanpun, jalan-jalan, seneng-seneng. Sementara hari libur pun aku sibuk latihan paduan suara, minggunya aku ibadat.” Albert merasa sedikit gak enak.
“Euuuu... Iya berdoalah dengan Tuhanmu, akupun sama mengadu semua ini kepada Tuhanku. Aku tak pernah mempermasalahkan kamu mau ajak aku main atau tidak, selagi kita bisa berkomunikasi itu sudah cukup. Lagian aku pun sama gak bisa sebebas gadis lain main kesana kemari apalagi jika adzan Magrib berkumandang, aku harus sudah di kosan.”
“Iya Cha aku mengerti, kamu gak usah khawatirkan hal itu.” Albert memainkan jari-jarinya seolah-olah ada kata yang hendak keluar dari mulutnya, namun terpenggal.
“Hmmm begini cha... euuu...mmmm, aku tunggu kamu besok di depan kosan ya. Gak usah masuk tunggu di halaman saja, takut jadi fitnah kita berzina karena hanya ada aku, abangku pergi dari kemarin.” Wajah Albert tampak murung.
“Memangnya ada apa? Sepertinya ada sesuatu yang penting.” Aku penasaran.
“Iya, ini tentang hubungan kita yang.” Nada suara Albert sedikit putus asa.
(menarik nafas) “Sudah kuduga. Baiklah besok seusai kuliah aku kesana.” Jawabku dengan tegas.
Aku dan Albert berpisah, Albert pergi kearah Ledeng dan aku pergi ke arah Gegerkalong. Hari-hari yang menebarkan, akupun tak sabar mendengar apa yang hendak dibicarakan. Putus-lanjut-putus-lanjut-putus, bunga terakhir yang kubuang-buang di tengah jalan sambil ku berjalan menunjukkan kata “putus”.
***
Aku tak percaya saat aku tiba di depan kosannya dan hendak mengetuk pintu. Dalam kesunyian, kulihat dia mengepalkan tangannya sambil memegang erat kalung salibnya itu. Samar terdengar do’a yang ia panjatkan:
“Tuhan mengapa kita berbeda? Mengapa ada banyak agama di dunia ini jika Tuhan memang ada satu? Bukankah Engkau penuh kasih? Tuhan, apakah yang sudah dipersatukan oleh cinta dapat dipisahkan oleh agama? Bukankah Engkau penuh kasih dan cinta? (seraya meneteskan air mata)
Jika memang Engkau mengatur jodoh setiap insan manusia, mengapa Kau atur dia di skenario hidupku? Padahal Kau tahu kita berbeda, Kau terlalu baik Tuhan hingga saat ini aku masih bisa melihatnya. Jaga dia selalu Tuhan, dia wanita muslim yang baik dan taat, aku sayang dia. Ya Tuhan Yesus, aku mohon lindungilah kekasihku, aku tahu kita tak mungkin bersatu, tapi sungguh keputusanku ini adalah sebuah keputusan yang terbaik. Lindungan dia, sebagaimana Engkau melindungi aku. Amin”
Tak terasa aku meneteskan air mata, dan sungguh aku baru merasakan ini denganya. Meski kami berbeda, tak pernah ku jumpai orang yang berbeda mendoakanku. Tak sadar dia membukakan pintu dan hendak menghapus air mataku.
            “Astaga, maaf aku gak bisa menyentuh kamu.” Albert hampir memegang pipiku dengan tisu yang digenggamnya. (Bukan Albert saja yang gak boleh nyentuh, selama lelaki itu belum sah menjadi suami dia gak boleh nyentuh aku).
            “Iya Bert tak apa, biar ku hapus sendiri air mata ini.” Mengambil tisu yang ada di tangan Albert.
            “Cha maaf, sebenarnya dua hari yang lalu aku ingin berkata ini. Kita harus putus, orangtuaku yang tidak merestui hubungan kita, sebelumnya mohon maaf bukan karena orangtuaku membenci Islam, tapi ada satu hal yang membuat orangtuaku tidak mengizinkanku menjalin hubungan ini, aku tak bisa mengatakannya padamu.” Albert menundukan kepala.
            “Iya Bert, aku mengerti.” Aku tersenyum.
            “Kamu sudah sholat Ashar belum, Cha?” Albert mengalihkan pembicaraan.
            “Belum Bert, tadi aku langsung kesini dan kebetulan belum adzan.”
            “Ini sudah pukul 15.20 Cha, mari aku antarkan ke masjid yang tak jauh dari kosanku. Kamu jangan menunda-nunda saat bertemu dengan Tuhanmu.” Albert terkekeh-kekeh.
            “Iya Bert pasti itu.” Aku tersenyum, masih saja dia mengingatkanku untuk sholat.
            (Masuk ke dalam mesjid)
            “Ehhhh ko kamu ga wudhu dulu?” Albert bingung.
            “Sudah Bert tadi di kosan.” Aku masuk tanpa melihat wajahnya, tak tega.
            Albert tersenyum.
            Inilah saat terakhirku bersama Albert, kenangan terakhir saat kau menungguku sholat Ashar. Kami menangis saat mengadu pada Tuhan masing-masing, dia mengepalkan tangannya dan aku menadahkan tangan. Mengapa Tuhan menciptakan manusia berbeda-beda? Padahalkan Tuhan inginnya disembah dengan satu cara, oleh sebab itu Tuhan menciptakan cinta supaya yang berbeda menjadi satu.
Tapi, kamu lebih mencintai Tuhanmu daripada aku, begitu juga aku. Aku bersujud, kamu melipat tangan. Aku menggenggam tasbih, kamu menggenggam rosario. Aku ke masjid, kamu ke gereja.
05 April 2014
Belum satu bulan hubungan kami kandas. Inilah aku, kamu, dan kenangan kita di semester empat. Kostka Albert Nugroho, mantan terunik, terasing, terberbeda (maksain amat kata-katanya), dan terindah pastinya. Meski perjalanan kami sesingkat api membakar kertas, semelesat roket ke angkasa. Namun, ketahuilah kamu mantan terindah yang memberikan arti hidup di dalam perbedaan, karena pelangi pun takkan indah jika hanya satu warna.


~Alkhawari~


[1] Jalan Salib adalah salah satu devosi dalam tradisi Katolik untuk mengenang kembali perbuatan Yesus yang menyelamatkan. Karena alasan ini, maka setiap Gereja Katolik memiliki gambar atau lukisan yang mengkisahkan berbagai macam keadaan atau “perhentian” dalam Sengsara dan Kematian Yesus. Devosi ini diadakan secara umum di Gereja Katolik pada hari-hari Jumat selama masa Prapaskah.
Senja beranjak naik
Menyaput biru dengan lembayung
Para ibu sibuk berkumpul sesamanya
Menggunjingkan harga susu formula
Yang terus merangkak mendahului bayi-bayinya
Senja beranjak naik
Menyaput biru dengan kelabu
Para bapak sibuk berkumpul sesamamya
Memusingkan upah yang tak kunjung naik
Menggunjingkan partai pilihannya
Yang hanya mengumbar janji
Senja beranjak naik
Menyaput biru menjadi kelam
Mahasiswa berbondong-bongong pulang
wajah-wajah letih
Mengeluhkan dosen dengan tugas menggemunung
Senja beranjak naik
Mengatar mantari keperaduan
Anak-anak kecil berlarian pulang
Mendendangkan lagu seronok terbaru
Senja beranjak naik
Dan kini hanya gelap menyisakan siluet
Wajah gelap penuh kekaburan

*ERYSHA
Sejenak butuh direnungkan dari mana asal makanan yang memberikan energi untuk beraktivitas
setiap hari, pakaian dan kotsan yang berguna sebagai pelindung, bergaya, serta tempat istirahat tatkala tubuh sedang lelah, bahkan laptop yang senantiasa membantu mempermudah kinerja dan mengakses informasi. Pada konteks tertentu hal – hal tersebut adalah manifestasi bahwa manusia adalah makhluk sosial, pasalnya apabila dijabarkan hal – hal tersebut merupakan hasil usaha bersama.  Itulah manusia yang memiliki gregariousness,

Konflik adalah suatu hal alami yang terjadi di sebuah masyarakat.
Apabila dibarengi dengan keterampilan tertentu, maka konflik ini dapat dikelola dengan baik. Adalah pendidikan resolusi konflik yang dapat menjadi salah satu modal penting untuk membina sumber daya insan yang memiliki keterampilan mengelola konflik dengan demokratis dan bertanggung jawab. Lembaga pendidikan yaitu sekolah dapat menjadi garda terdepan dalam penyelenggaraan pendidikan resolusi konflik.



Industri budaya adalah sebuah istilah yang acap kali digunakan untuk organisasi – organisasi
yang menciptakan budaya popular, seperti televisi, radio, media online, majalah, Koran, dan musik popular. Secara kasat mata hal tersebut tak nampak bermasalah, namun ‘gelagat’ industri budaya ini apabila kita telusuri akan muncul sebuah pertanyaan “Apakah mereka di pihak rakyat atau kaum kapitalis ?”  betapa tidak, begitu banyak tontonan televisi, lagu – lagu, media online yang tidak mendidik dan bahkan menyesatkan.
Pada tanggal 9 April 2014 Indonesia akan kembali mencatat moment akbar dalam dunia politiknya, yakni pemilu dengan harapan seluruh warga negara Indonesia dapat berpatisipasi dalam moment akbar tersebut. Namun persoalanya saat ini masih banyak masyarakat Indonesia yang enggan berpartisipasi untuk memberikan suaranya dalam pemilu atau dengan kata lain memilih golput sebagai pilihan mereka.
Hari Anak Nasional adalah hari dengan penuh harapan bahwa anak di Indonesia tercukupi kebutuhan lahir dan batinya, akan tetapi pada realitas kehidupan kita dapat melihat di persimpangan jalan anak dibawah umur mencari sesuap nasi, bahkan anak sekolah yang notabene kaum yang terdidik dengan bangga hati mereka kesana kemari ditemani rokok dan minuman keras serta beranggapan bahwa tawuran merupakan hal yang biasa dalam siklus kehidupan mereka. Permasalahan ini tak lepas dari pola asuh orangtua yang salah dan cenderung permisivisme

Manusia sebagai makhluk sosial tak terlepas dari manusia lainya untuk melakukan sebuah proses sosial yang senantiasa berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan hidup, seperti pangan, pendidikan, pekerjaan, hiburan dan seni. Kebutuhan terhadap seni bukan semata kebutuhan akan rasa indah dan hiburan, melainkan sebagai penunjang kepentingan aktivitas manusia. Menurut Muhammad Jazuli (2014, hlm 48) bahwa kesenian lahir dari masyarakat dan tumbuh berkembang selaras dengan kepentingan masyarakat. Dari penjelasan tersebut dapat dimaknai bahwa kesenian berada di dalam kehidupan sehari – hari yang merupakan produk dari masyarakat yang saling berinteraksi untuk memenuhi kepentingan hidupnya. Lebih dalam lagi Merriem dalam Muhammad Jazuli (2014, hlm 161) mengungkapkan bahwa seni memiliki beberapa fungsi, seperti sebagai sarana upacara, sebagai respon fisik, sebagai hiburan, sebagai sarana komunikasi, untuk persembahan, menjaga keharmonisan norma – norma masyarakat, penopang intuisi, dan untuk integritas kemasyarakatan.
Mengingat begitu pentingnya seni dalam kehidupan, maka peneliti beranggapan diperlukan adanya partisipasi masyarakat untuk mewariskan kesenian agar tidak punah.
Purwakarta secara geografis adalah salah satu kabupaten di Jawa Barat, letaknya berada di tengah – tengah bagian wilayah pantura dan priangan. Hal tersebut dapat mempengaruhi ciri khas dari seni yang dimiliki oleh masyarakat setempat. Selain itu pemerintah daerah Kabupaten Purwakarta sedang berupaya untuk menjadikan Purwakarta sebagai Kota Estetik dengan pendekatan estetik dan seni. Upaya pemerintah tersebut menjadi salah satu daya tarik bagi peneliti untuk mengkaji kondisi objektif kesenian di daerah Kabupaten Purwakarta.
Domyak adalah salah satu kesenian di Purwakarta yang sudah cukup lama ada. Namun kini keberadaan kesenian Domyak mengalami kemunduran hal ini mungkin dikarenakan adanya arus modernisasi dan selera masyarakat yang berubah. Hal ini diperkuat oleh pernyataan Jajaka Purwakarta 2014, menurut M.I. Sopyan (Komunikasi personal, 3 Februari 2015) bahwa Purwakarta memiliki beberapa kesenian daerah salah satunya Domyak yang sudah lama ada namun kekinian mulai ditinggalkan oleh pengikutnya. Pendapat ini juga sejalan dengan pernyataan yang diungkapkan oleh Sobari dalam Rina Arifa (2013, hlm 3 – 4) bahwa seni Domyak ini sudah sudah sangat lama tidak berkembang, bahkan hampir punah.  Berdasarkan pernyataan tersebut peneliti menafsirkan bahwa seni Domyak membutuhkan sebuah upaya dari masyarakat sebagai penggerak, penikmat dan yang mewariskan agar eksistensi Domyak tetap terjaga.
Pada Penelitian sederhana yang dilakukan kesenian Domyak ini berasal dari kata ngadogdogan bari ngarampayak yang artinya mengiringi dengan tetabuhan terhadap mereka yang menari dan memberikan hiburan. Eman sebagai pimpinan grup Domyak menuturkan bahwa kesenian ini sudah ada sejak 1927.Tujuan dari Domyak ini yakni sebagai ritual memohon hujan kepada Sang Maha Kuasa hal ini sejalan dengan tipologi masyarakat yang mata pencahariannya di perkebunan teh, sayuran dan palawija konon karena hal tersebut mereka memiliki seni Angklung Buncis yang sekarang lebih dikenal dengan Domyak dan konon di daerah Pasir Angin pernah terjadi kemarau berkepanjangan, maka masyarakat setempat mengadakan sebuah ritual memohon diturunkan hujan dengan menggunakan kesenian buncis yang saat ini menjadi Domyak.

  Pada saat ini Domyak masih tumbuh dan berkembang di masyarakat Desa Pasir Angin, namun dengan seiring perkembangan Domyak tidak hanya sebagai ritual melainkan sebagai hiburan namun tidak menghilangkan sisi ritual dari Domyak itu sendiri sebagai identitas kesenianya. Perihal eksistensi kesenian Domyak, Eman menuturkan belum terlihat ketertarikan dan apresiasi generasi muda terhadap kesenian Domyak, padahal Domyak adalah kesenian buhun daerahnya sendiri yang harus dilestarikan. Pada saat ini Eman menjadi salah satu tokoh yang melestarikan Domyak ini melalui komunitas yang dibentuknya, yaitu Sinar Pusaka dan Pusaka Muda.


By : Manusia Abad-45
Sumber : Arifa, Rina (2013) Penyajian Kesenian Genyek. Bandung : Universitas Pendidikan               Indonesia
Jazuli, M (2014). Sosiologi Seni. Yogyakarta: Graha Ilmu

Haruskah aku pergi rembulan ?
Inginku bergelung dibalik punggungmu
Bergelayut manja dalam pelukmu
Bersembunyi di hangat kasihmu

Merengek manja
Aku tak mau pergi
Kumbang-kumbang nakal membayangi
Cahaya sejuk rembulan menatap

Kau harus pergi anak manis
Jalan ini masih panjang
Tenemukanlah jalurmu sendiri
Kejarlah terang mmentari
Gapai sang kejora
Tatap luas semesta
Goreskan dunia secercah cahaya keniscayaan

Jika kau jengah padanya
Kembalilah padaku
Aku akan memelukmu

By: Erysha

Ilustrasi : http://kiokarma.com/


Aceh merupakan salah satu provinsi yang identik dengan konservasi nilai – nila agama islam. Provinsi yang menjujung tinggi nila – nila agama islam ini di beberapa tahun silam pernah mengalami pergolakan separatis dengan para gerilyawanya yang tergabung dalam GAM (Gerakan Aceh Merdeka), berbicara tentang Aceh di beberapa tahun silam tak dapat terlepas dari perbincangan GAM, pemberontakan tersebut didasari adanya kelukaan di Tanah Aceh di masa lalu

TKI merupakan pahlawan devisa, dan TKI adalah tenaga kerja yang professional,begitulah cara halus memberikan sebuah label untuk para TKI, namun pada realita yang ada TKI adalah pahlawan devisa yang terhina, dan TKI adalah tenaga kerja yang professional yang dalam tanda kutip rela melakukan apa saja untuk membahagiakan majikannya guna memperoleh simpati berupa uang. Selain itu banyak kabar yang beredar bahwa bekerja di luar negeri memberikan jaminan materi yang luar biasa yang dapat memperbaiki sendi kehidupan keluarga dengan adanya kabar manis seperti itu masyarakat di Indonesia berbondong - bonding untuk menjadi TKI segala cara mereka tempuh untuk pergi ke luar negeri mulai dari cara yang legal sampai dengan yang illegal.Ironisnya banyak TKI
Pagi ini tak secerah biasanya, matahari yang biasa menyapaku di pagi hari terbungkam bisu oleh kerumunan awan yang seolah membenciku pagi ini. Hujan yang turun sejak ayam berkokok tak kunjung henti membanjiri bumi ini. Aku masih tertegun di tengah riakan air hujan yang menghantam genting rumahku.
“Bu, sepertinya Adul tidak jadi pergi ke sekolah!!! Hujan terus saja mengguyur!!!” Teriakku kepada ibu dengan sedikit kesal.
Datanglah seorang perempuan setengah baya yang berdiri persis di garis pintu dengan kursi rodanya, mencoba mendekatiku perlahan.
“Dul, tunggulah. Sebentar lagi hujan reda.” Ibu menatapku dari kejauhan.
“Tapi bu, hujannya terlampau besar dan membuatku tidak bersemangat untuk pergi ke sekolah.” Aku membantah ibu dengan kasar.
“Dul, dengarlah. Hujan yang lebat akan terkalahkan dengan semangat yang besar. Lihatlah Doni, dia selalu bersemangat pergi sekolah mau hujan atau panas, tak pernah mengeluh.” Seru ibu sambil mengayuh kursi rodanya menuju dapur.
“Doni lagi, Doni lagi…Yasudah angkat saja Doni jadi anak ibu!!!!” Aku menimpal jawaban ibu dengan ketus.
“Bukan begitu Dul. Kemarilah....” Ibu menyuruhku ke dapur.
“Sudahlah, lebih baik Adul tidur lagi.” Aku melemparkan tas dengan seenaknya, tampak buku dalam tas itu berhamburan.
Ku lihat di balik tirai kamar, ibu mencoba meraih tas yang barus saja aku lempar, sangat jelas tergeletak beberapa buku tulis dan LKS yang aku beli dua minggu yang lalu di lantai. Bukan hanya itu, pemandangan yang tak kalah hebatnya adalah uban ibuku yang semakin hari semakin menghiasi kepalanya. Sebenarnya aku merasa kasihan dengan keadaan ibu yang sekarang harus bertahan hidup dengan kursi rodanya, tapi apalah dikata aku paling bosan mendengar ibu yang selalu memuja-muja Doni, tetangga sebelahku. Maka, jangan salahkan jika aku berperangai nakal dan tidak berbakti kepada ibu.
Weker menunjukkan pukul 7.30 WIB, namun hujan lebat dan angin yang dingin begitu kejam menelusuk ke tubuhku. Sontak ku lihat bantal dan guling yang kian melambaikan kehangatannya padaku, segera aku mengganti baju putih abu dengan pakaian istirahat. Ku putuskan untuk kembali memanjakan mataku sejenak.
***
“Dul, hebat sekali kamu bisa membeli tablet secanggih ini.” Seru Doni, anak tetanggaku yang selalu dipuja oleh ibu.
“Iya dong, emangnya kamu saja yang punya handphone baru. Aku juga bisa.” Nada bicaraku meninggi, sembari aku memainkan tablet baruku.
“Yah ini juga handphone hadiah dari lomba cerpen, Dul. Ayahku tidak mungkin membelikanku benda mahal semacam ini.” Doni tersenyum.
“Kok kamu bilang gitu Don? Kamu enak punya ayah, sedangkan aku, ayah pergi begitu saja, ibu pun tidak bisa apa-apa.” Aku bersungut-sungut.
“Eh, Dul kamu tidak boleh seperti itu. Ibumu hebat, meski beliau memakai kursi roda dalam menjalankan setiap aktivitasnya, ibumu mampu membesarkan kau hingga sampai detik ini.” Doni menepuk bahu kananku.
“Ah, kamu sama halnya seperti ibu. Cerewet. Sudahlah aku pulang duluan ya.” Aku meninggalkan Doni tepat di depan pintu gerbang sekolah, langkahku sengaja dipercepat.
Doni hanya tersenyum dan melambaikan tangan kanannya, berseru untuk berhati-hati di jalan. Aku sama sekali tidak memperdulikannya, karena dalam pikirku Doni adalah anak kesayangan ibu dan aku selalu salah di mata ibu sampai kapanpun. Gumamku dalam hati.
Setelah sayup-sayup bayangan Doni hilang dari pelupuk mata, langkahku menjadi pelan. Sejatinya aku tergesa-gesa karena tak ingin pulang bersama Doni. Tapi, tiba dipertengahan gang menuju rumahku, ku lihat kerumunan orang begitu membanjiri gang rumah. Bukan, tepatnya pas di kediaman rumahku. Aku menggaruk kepala yang tak gatal dan menimbulkan seribu tanda tanya. Ada apa di rumah? Mungkinkah ayah pulang dari negri Paman Sam itu? Atau ada donatur  yang mau membiayai penyakit lumpuh ibu, sehingga ibu sehat kembali. Atau jangan-jangan ada bapak Gubernur yang sengaja datang ke rumahku untuk memberikan hadiah, karena semester kemarin aku juara satu di kelas. Segera mungkin aku mempercepat langkahku, lebih cepat daripada menghindari sosok Doni.
“Mang Koko, ada apa di rumah? Tidak seperti biasanya ramai seperti ini.” Aku bertanya pada Mang Koko, tetangga samping kanan rumahku.
“Ya ampun, kamu gak tau Dul jika ibumu meninggal?” Mang Koko keheranan.
“Apa? Ibu meninggal? Itu hal yang mustahil!” Aku terkaget-kaget dan tidak percaya.
“Lihat saja sana, ibumu sudah terbujur kaku di tengah rumah. Justru ibumu belum kami kebumikan karena menunggu kau, Dul.” Sahut Mang Koko setengah kesal karena menunggu kedatanganku.
Tanpa berpikir panjang aku melempar tas, seketika beberapa ibu-ibu yang sibuk mengurusi jenazah ibu terkaget-kaget dan saling berbisik. Aku memandang ke tengah rumah dan benar saja jasad ibu telah terbungkus oleh kain kafan, wajahnya pucat dengan kedua mata yang sudah tertutup untuk selamanya. Aku menangis, memeluk erat jenazah ibu dan tak ingin aku lepaskan.
Beberapa tetanggaku sontak menghentikan tangisan histerisku, ku ingat bu Mimin ibunya Doni segera memeluk erat tubuhku. Tak kuasa aku menangis dalam dekapan seorang ibu yang dapat menenangkanku. Sembari terisak dalam lautan kenestapaan, bu Mimin tetap tegar mengelus lembut kepalaku dan bertuah supaya diberi ketabahan.
***
Bayang-bayang rasa bersalah bukan lagi semakin bias namun semakin jelas menari riang di depan benakku. Orang-orang yang menghantarkan jenazah ibu ke peristirahatan, sejak tadi sudah pulang berhamburan bersamaan dengan hujan yang turun lebat tiba-tiba. Aku tak juga bangkit meski hujan deras mengguyuri tubuhku. Sontak uluran tangan seorang wanita mengahampiri wajahku yang penuh dengan genangan air mata.
“Ayolah Dul, kita pulang. Tak baik jika kau terus menangisi almarhumah ibumu” Ibu Mimin, menyuruhku untuk pulang.
“Tapi Adul tak mau pulang bu. Adul terlalu banyak salah.” Aku memeluk batu nisan peristirahatan terakhir ibu.
“Tak baik Dul jika kau berpikir seperti itu. Ibumu teramat baik dan kamu bukanlah suatu kesalahan. Mari kita pulang, biar ibu yang mengurus kau, Doni sudah menunggu kita di rumah.” Ibu Mimin memaksaku untuk bangkit dari peristirahatan ibu.
“Terima kasih bu, baiklah.” Aku bangkit dan mengusap nisan ibuku, melambaikan pertanda pamit.
Setibanya di rumah bu Mimin, Doni menyuruhku dan ibunya untuk segera masuk. Tak lupa, Doni menyuruhku mandi dan mengulurkan handuk serta beberapa pakaiannya untukku.
Setelah selesai mandi, ku lihat di balik pintu Doni bercakap-cakap dengan ibunya, entah apa yang menjadi topik bincangannya. Tapi, yang ku perhatikan adalah raut wajah Doni begitu hangat dengan ibunya, begitupun sebaliknya. Hal yang tidak pernah aku rasakan selama bersama almarhumah ibuku, melihat pemandangan itu seketika aku menyeka air mata yang hendak jatuh di pipiku. Aku baru sadar, betapa berharganya seorang ibu.
“Abdul, ayo kemari nak. Kita makan siang terlebih dahulu.” Ibu memanggilku dari ruang tengah.
“Iyaaaa bu, sebentar. Adul sedang merapihkan pakaian kotornya.” Aku beralibi dan segera mengusap mata, agar aku terlihat baik-baik saja.
“Sudahlah Dul, makan dulu. Biar aku saja yang merapihkan pakaianmu, nanti keburu dingin nih makanannya.” Teriak Doni dari ruang tengah.
“Iya Don, aku segera kesana.” Aku keluar dari kamar Doni.
Aku segera duduk manis ditengah bu Mimin dan Doni. Wangi semilir nasi hangat, telur dadar, dan ayam goreng manis pedas membuatku semakin lapar, terlebih aku dari pagi memang tidak sarapan. Baru ku tahu bahwa Doni pintar memasak, semua ini adalah Doni yang menyiapkan. Aku tersipu malu.
Semenjak ibu meninggal, ayahku tak pernah memberi kabar. Mungkin di Amerika ayah menikah lagi, pikirku. Aku seperti saudara kembar Doni, bu Mimin memperlakukan aku dan Doni sama, begitupula ayahnya. Sejak kepergian ibu, semua tetangga mencibirku si anak durhaka. Aku hanya terdiam dengan cibiran seperti itu, karena aku menyadari semua kesalahanku. Namun, Doni terus memberikan semangat bak motivator ulung agar semua omongan negatif  tetangga tidak aku dengarkan.
***
Aku terperanjat dari tidurku, keringat dingin membanjiri tubuh ini. Ku tampar keras kedua pipi, ternyata hanya mimpi. Aku termenung di depan kaca dan memikirkan mimpi tadi, seolah nyata. Aku pastikan bahwa ibu memang benar-benar masih hidup, maka tanpa berpikir panjang aku mencari ibu di dapur.
“Buuuuuuu….Ibuuuu.” Aku memanggil ibu, namun ibu tak menyahutku.
“Ibuuuuu…..Dimana?” Aku mulai cemas.
Dapur, halaman depan, halaman belakang, ruang tengah tak kunjung juga ku temui ibu. Badanku bergemetar, jangan-jangan mimpiku tadi adalah pertanda bahwa ibu benar-benar .…
“Ibu maafkan Adul.” Aku memeluk ibu yang tengah tertidur lelap.
“Mmmmmhhh… Dul, kenapa?” Ibu kaget kemudian terbangun dan mengusap lembut kepalaku.
Aku menceritakan mimpiku yang buruk itu kepada ibu. Ibu mendengarkan mimpiku dan tanpa satu syarat apapun yang ibu ajukan kepadaku, pintu maafnya terbuka lebar. Selama ini, aku menyadari bahwa aku anak yang tidak berbakti padanya. Setiap hari aku hanya mengeluh dan mengeluh, tanpa ku tahu ibu adalah seseorang yang paling berharga dalam hidupku.
Masa sulitku adalah dimana kami berdua ditinggal oleh ayah yang pergi ke Amerika. Masih ku ingat sosok ayah ketika aku kelas enam SD, saat itulah saat terakhir aku mengenal seorang ayah. Ayah memutuskan untuk pergi ke negara yang terkenal dengan patung Libertinya itu dengan alasan untuk mencari biaya yang besar demi kesembuhan ibu. Ibu yang mengalami kelumpuhan akibat stroke yang menyerangnya sejak aku kelas lima SD membuat ayah harus memutar otak dua kali lebih keras.
Sebenarnya aku sendiri mempunyai dua orang kakak. Kakak pertamaku merantau ke Kalimantan bersama anak Pak Harun, teman dekat ayah. Semenjak pergi ke Kalimantan, tak sepucuk surat pun datang dari kakak sulungku. Entah apa yang terjadi, aku dan ibu pun tak pernah mendapatkan kabar apalagi Pak Harun kini tak tinggal dekat dengan kami lagi. Begitupun dengan kakak kedua, kakakku yang kedua adalah perempuan setelah dibawa oleh suaminya ke Malaysia, tak pernah berkunjung lagi ke rumah. Mbak Laila, kakak keduaku hanya memberikan transferan uang saja untuk menghidupi ibu dan biaya sekolahku, itupun kadang ibu harus mencari pinjaman ke tetangga karena tidak cukup, misalnya.
“Dul, uang dari kakakmu sudah hampir menipis karena sudah tiga bulan lamanya kakakmu tidak transfer.” Ibu menghampiriku dengan kursi rodanya yang senantiasa menemaninya kemanapun pergi.
“Hmmm… Tak apalah bu, mungkin bulan depan si mbak transfer.” Aku yang sedang asyik mengerjakan tugas, tak terlalu menghiraukan ucapan ibu.
“Tapi Dul, uang kita benar-benar tipis. Ada untuk satu minggu lagi kita makan, itu pun cukup tahu dan tempe lauk-pauknya.” Ibu mencoba memberikan penekanan suara, agar aku menoleh kepadanya.
“Ya ampun. Sepertinya kita harus melakukan sesuatu bu.” Seketika aku menatap ibu.
“Lakukan apa? Pinjam uang lagi pada bu Mimin? Ibu sangat malu, Dul.” Ibu tertunduk lesu.
“Hmmmm… Biar Adul pikirkan.” Aku termenung bak seorang filosof.
“Ahaaaaa…. Gimana kalo kita berjualan kue saja bu. Ibu kan jago masak, biar Adul yang jualan kue-kue ibu ke sekolah dan ke warung-warung.” Aku memberikan pencerahan kepada ibu.
Ibu tersenyum, “Ide yang bagus. Tapi, memangnya kamu gak malu, anak laki-laki jualan kue?” Ibu setengah tidak yakin dengan usulanku.
“Ibu percayakan padaku. Adul mau berjualan untuk ibu, pokoknya sekarang kita harus mandiri. Kita bisa hidup tanpa ayah dan si mbak.” Aku memeluk ibu.
“Baiklah Dul, mulai besok ibu akan mencoba untuk membuat kembali kue-kue pasar, seperti dulu ibu masih gadis.” Ibu bersemangat.
“Siap, pasti kue-kue buatan ibu enak dan laris.” Aku memuji ibu.
***
Sudah satu bulan lamanya aku berjualan kue di sekolah. Barbagai tanggapan dan hardikan dari sana-sini menerpaku, mulai dari ada yang bilang cari sensasi, si anak durhaka yang tobat, dasar anak miskin, kampungan, dll. Namun, ada juga yang mengacungi jempol jerih payahku, salah satunya Doni. Doni yang menjadi pelanggan setia selalu memberikanku semangat agar aku pantang menyerah untuk terus berjualan. Sejak saat itu, aku berkawan baik dengan Doni, bahkan kami berdua selalu pulang dan pergi ke sekolah bersama, mengerjakan tugas bersama, dan kebaikan Doni yang membuatku kagum adalah dia tak pernah malu untuk membantuku berjualan kue, hingga ke ruangan guru dan kepala sekolah, Doni berani menjajakan kue-kue buatan ibuku.
Luar biasa hasilnya, minggu pertama, kedua, dan ketiga hasilnya memuaskan. Namun, di minggu-minggu berikutnya kue-kue buatan ibu tak pernah laku, bahkan sudah satu minggu ini kue-kue ibu selalu dibagikan ke tetangga karena tak sedikitpun yang terjual.
“Bu, bagaimana ini kuenya tak pernah laku?” Aku murung.
“Kamu jangan patah semangat Dul, ibu yakin suatu hari nanti ada yang membeli kue-kue kita.” Ibu mengayuh kursi rodanya dan segera membuatkanku secangkir teh hangat.
“Tapi bagaimana kita mau dapat hasil, sementara kuenya selalu ibu bagikan ke tetangga?” Aku meraih teh yang ibu buat.
“Allah sudah mengatur semuanya. Boleh jadi Allah sudah menyiapkan rencana terbaik-Nya untuk kita. Bisa jadi ada saudagar kaya yang mau memborong habis kue-kue kita.” Ibu tersenyum sembari membetulkan ikatan rambutnya, tampak uban putihnya dan kerutan di keningnya semakin banyak.
“Aamiin bu, semoga saja.” Aku merapikan kembali kue-kue itu.
Setelah semua kue dihidangkan aku segera berpamitan pada ibu, aku berjualan kue keliling. Mau tak mau cara ini harus ku lakukan agar kue ibu laris dibeli oleh pelanggan. Sudah dua, tiga, rumah aku singgahi namun tak ada yang mau membeli. Tak apa, pikirku. Aku terus saja berjualan dengan penuh kegembiraan, mengingat kalimat ibu bahwa suatu hari nanti ada saudagar yang memborong habis daganganku.
***
Terik sang surya berganti menjadi senja, namun tak mengganti separuh nasibku. Kue-kue tak laku, hanya satu ada yang membeli, itupun dengan setengah harga. Terpaksa ku jual, daripada tidak mendapatkan uang sama sekali.
Berpeluh keringat, segera aku beristirahat di sebuh taman kota. Tak terasa aku berjalan dari gang rumah hingga jalan raya kota. Aku lelah dan tak sadarkan diri hingga aku tertidur pulas bi bawah pohon beringin yang besar.
            “Dek, bangun….Bangun…” Seseorang membangunkanku.
            “Mhhh…Iya…Huaaaaam.” Aku terbangun dengan keadaaan masih kantuk dan mengucek-ngucek kedua bola mata.
            “Haaaahhh.. daganganku habis?” Aku kaget setengah kegirangan.
            “Tidak nak, tadi beberapa berandalan kota mengabisi semua kue-kuemu ketika kamu tertidur pulas.” Laki-laki yang penuh dengan uban dan janggut itu menjelaskan hilanganya daganganku.
            “Ya ampun, maafkan Adul bu.” Tiba-tiba aku tertunduk lemas.
            Bukannya saudagar kaya yang menghampiriku, ternyata berandalan nakal yang mencuri semua daganganku. Tapi, sungguh Allah Maha Tahu, seseorang yang membangunkanku adalah Pak Harun kerabat ayah dulu. Lantas, aku bercengkrama dengan beliau hingga petang. Kini Pak Harun menjadi pengusaha tambang yang sangat sukses, bukan hanya memberikan kabar gembira tentang kakak sulungku, tapi Pak Harun memang sengaja berencana singgah ke rumahku, beliau tersesat di taman kota karena sudah berbelas tahun lamanya tidak singgah ke kota ini lagi.

            Alhamdulillah, kakak sulungku Mas Tomi sudah pindah ke Papua karena sukses menjadi pengusaha tambang minyak. Pak Harun juga menitipkan bingkisan dari Mas Tomi dan sepucuk surat permintaan maaf untuk ibu. Kini, bukan hanya kue-kue ibu yang terjual laris manis habis, tapi memang ibu sekarang menjadi pengusaha kue jajanan pasar. Mas Tomi yang memberikan ibu modal usaha melalui Pak Harun, alhasil bukan hanya kehidupan kami yang membaik tapi kesehatan ibu juga. Setelah kios kue berdiri, ibu mulai berobat rutin dan akhirnya ibu sembuh. Tahun terakhir aku sekolah SMA, Pak Harun mendaftarkan aku untuk melanjutkan studi perguruan tinggi ke Amerika, luar biasa. Semoga saja aku bisa bertemu dengan ayah disana. Aamiin.

By : Alkhawari 

Ilustrasi : pixabay.com
Sudah tujuh tahun lamanya aku mengidap suatu penyakit, entah penyakit apa ini namanya, setiap dokter pasti berbeda-beda mendiagnosa penyakit ini. Sudah bosan juga rasanya setiap dokter dan rumah sakit aku datangi, tapi tak kunjung jua sembuh penyakitku. Masih teringat apa yang dikatakan dokter pertama kali aku mengidap penyakit ini, beliau mengatakan ini hanya penyakit kulit dan solusinya jangan makan telur atau ikan asin. Bersusah payah aku mencoba untuk tidak mengonsumsi makanan kesukaanku itu, tapi tetap saja setelah penyakit itu sembuh, tumbuh kembali penyakit itu pada bagian tubuh yang lainnya. Begitu pun seterusnya, sampai dari rumah sakit yang ternama pun aku kunjungi, penyakitku tak kunjung membaik. Hanya sembuh sementara dan tumbuh di bagian tubuh yang lainnya, dokter bilang itu penyakit eksim.
Maka tak ayal terkadang semangatku fluktuasi, naik turun ibarat roller coster di taman bermain, berputar bak bianglala dan aku hanya berharap suatu hari nanti ada titik temu dibalik semua cobaan yang menimpa kepadaku.
“Bu, penyakitku kambuh lagi.” Aku menunjuk pada bagian tubuh yang terkena eksim, tepat pada sikut sebelah kanan.
“Aduh, kok bisa tumbuh lagi? Kita kan sudah periksa ke dokter beberapa kali.” Ibu mengaduh sambil terus melipat pakaian ayah yang menumpuk di atas mesin cuci.
“Iya bu, ini sungguh terasa sangat gatal.” Aku menggaruk bagian yang terkena eksim.
“Nak, maafkan ibu. Ibu tidak bisa membawamu ke dokter lagi, keuangan kita sedang menurun.” Ibu mengerutkan dahi, kecewa karena tidak bisa membawaku ke dokter.
“Iya bu, tidak apa-apa.” Aku tersenyum dan memeluk ibu.
Ibu dan ayahku, mereka adalah sosok malaikat yang Allah kirimkan kepadaku. Ayahku yang kian hari kian menua dan tahun ini genap ayahku berumur 64th, sedangkan ibuku berumur 63th. Terkadang, aku sedikit pilu melihat kondisi kedua orang tuaku, dengan kondisi sudah tua, ayahku harus tetap mencari nafkah untuk bisa membayar hutang dan menghidupi kami bertiga.
***
Suasana pagi ini tampak lengang, sang surya menyapaku di pagi hari. Hari ini aku sangat gembira karena sebentar lagi UAS semester ganjil, begitulah pikirku. Seperti biasa setiap pagi aku menikmati suasana dalam bis, bis Damri Leuwi Panjang-Ledeng. Kediamanku tampaklah lumayan jauh dengan lokasi kampus, sehingga aku harus pulang pergi menggunakan kendaraan umum. Tapi, tak apa aku begitu menikmatinya.
“Ra, praktikum semester ini kita pergi ke Lombok dan Bali.” Anur, sahabat terbaikku memberikan informasi terbaru.
“Oh iya? Aduh…” Aku tercengang dan tampak risau.
“Kamu kenapa Ra? Ini pasti akan menjadi perjalanan kita yang menyenangkan. Kamu pasti ikut kan?” Anur tersenyum, menepuk punggung sebelah kananku.
“Em ya Insya Allah Nur. Doakan saja.” Aku membalas dengan senyum dan mimik tak yakin.
Sebenarnya memang sangatlah aku tunggu praktikum ke luar pulau Jawa, terlebih aku bagai katak dalam tempurung yang tak pernah pergi jauh. Sepertinya memang itu akan menjadi perjalanan yang amat menyenangkan, tapi tidak dengan kondisiku yang sekarang. Aku pesimis, tak mungkin aku meminta bantuan kedua orang tuaku untuk membicarakan perkara ini.
Terlihat seorang laki-laki dengan perawakan pendek, gendut dengan paras rambut yang rapih, memakai kemeja bergaris paduan warna merah marun dan putih yang tepat dengan warna kulitnya yang agak kecoklatan membuatnya tampak sedikit elegan dan gagah, dialah Pahmi teman terbaikku sekaligus ketua angkatan kami.
“Miiiiiii….. Mau kemana?” Aku melambaikan tangan kepada Pahmi, berharap dia mengerti maksudku.
“Araaaa…. Iya kebetulan saya bertemu dengan kamu. Saya mau ke Prodi Ra, kamu mau ikut?” Pahmi mendatangiku dengan langkah yang cepat.
“Hmmm tidak Mi. Oia aku panggil kamu hanya ingin menanyakan, apa betul praktikum semester sekarang pergi ke Lombok dan berapa sih biayanya?” Aku bertanya tak sabar.
“Iya Ra, biayanya sekitar dua juta lima ratus. Kamu rajin menabung ya, pokoknya saya menginginkan kita semua satu angkatan ikut praktikum semua, jangan bilang gak ikut gara-gara masalah biaya. Prodi pasti bantu.” Pahmi bersemangat dan memberikan motivasi bak motivator ulung.
“Iya mudah-mudahan Mi, hehe. Aamiin…” Aku menjawab dengan rasa tak yakin, sama seperti jawabanku kepada Anur.
Sebenarnya aku sangat menginginkan sekali untuk pergi ke Lombok, apalagi ini adalah praktikum yang terakhir kalinya. Tapi apalah daya, uang sebesar itu bagiku tak semudah membalikan tahu di tempat penggorengan, untuk biaya kuliah dan bekal sehari-hari saja aku hanya mengandalkan uang beasiswa. Oh Tuhan bagaimana ini….
Ku lihat buku berwarna pink, buku tabunganku. Terlihat deretan angka yang masih menunjukkan jauh mencapai target untuk pergi ke Lombok. Aku terdiam, diamku bercampur resah dan rasa kecewa. Lantas ku pandangi buku itu lamat-lamat, pada akhirnya aku menemukan sebuah ide.
***
“Ra, kamu belanja keripik banyak sekali.” Ibu sambil menenteng cangkir berisi teh manis panas untuk ayah, melihatku keheranan dengan keripik yang numpuk di samping kursi depan rumah.
“Iya bu, Ara mulai besok jualan keripik.” Aku menatap ibu dengan mimik semangat dan meyakinkan.
“Wah anak yang rajin. Memangnya ada acara apa, gak ada hujan gak ada angin kamu tiba-tiba berjualan?” Ibu duduk lesehan, membantuku membungkus keripik yang telah ku timbang.
“Iya bu untuk praktikum ke Lombok bulan Maret nanti. Doakan Ara ya bu semoga uangnya cukup.” Aku memegang tangan ibu, meminta restu agar daganganku ini barokah.
“Subhanallah nak, pasti ibu doakan kamu sayang.” Ibu mengusap rambutku dengan penuh kehangatan kasih sayang.
“Ara, maafkan ayah belum bisa menjadi ayah yang terbaik untuk kamu dan kakak-kakak kamu.” Ayah muncul dibalik tirai, membawa cangkir berisi teh panas kemudian duduk disebelahku.
“Ayah, tak masalah. Ara yakin Ara bisa, ayah doakan Ara ya.” Aku terus membungkus keripik yang hendak ku lipat dengan lilin sambil terus meyakinkan ayah bahwa aku baik-baik saja.
Aku tak pernah menunjukkan ekspresi sedih kepada kedua orang tuaku, karena aku sendiri yang lebih tau dan faham kondisi keluargaku seperti apa. Memang, aku mempunyai lima orang kakak. Dua kakak laki-laki dan tiga orang kakak perempuan, tapi namanya juga seorang kakak meskipun kami semua saudara kandung, mereka semua tidak bisa membantuku secara maksimal dan seluruh keluargaku hanya memberikan dukungan moral supaya aku tetap semangat kuliah. Tak apa, aku memang bertekad untuk terus melanjutkan pendidikan, untuk kebahagiaan kedua orang tuaku.
“Bu, keripiknya sudah selesai Ara bungkus dan menjadi seratus bungkus. Doakan ya bu, ke Lombok sekitar tiga bulan lagi. Semoga apa yang Ara lakukan Allah meridhoinya.” Aku memeluk ibu.
“Insya Allah nak, Allah pasti mempermudah usahamu ini.” Ibu mengusap lembut rambut dan punggungku.
***
Sudah dua bulan setengah lamanya aku berjualan keripik, uang pun sudah terkumpul hampir mencapai angka yang ku harapkan. Aku teramat gembira dengan semua usahaku ini, keripik yang aku jual laku keras dipasaran, bahkan beberapa jurusan yang ada di fakultas sengaja memesan langsung keripik dariku jika ada acara-acara tertentu.
Maha Besar Allah, yang selalu membantu dan menjagaku di setiap urusan. Tapi, angka-angka yang ada di tabungan itu tak seindah pada kenyataannya. Ayahku jatuh sakit dan mengharuskan ayah dibawa ke rumah sakit. Semua kakakku patungan untuk menebus ayah dari rumah sakit, begitupula aku. Tabunganku terkuras, bahkan angka-angka itu kini kian jauh dari harapan.
“Ara, maafkan ibu yang belum bisa membahagiakanmu. Tabungan untuk pergi praktikum, malah habis untuk menebus ayahmu nak.” Ibu menatapku, terlihat uban yang memutih itu kian hari kian banyak, kerutan di dahi itu kian hari kian tebal dan mata ibu berkaca-kaca.
“Bu, sudahlah. Lebih baik ayah sembuh dan itu sudah merupakan kebahagiaan bagi Ara, kita semua bisa berkumpul kembali di rumah yang sederhana dan hangat ini.” Aku tersenyum manis dan menutup buku tabunganku.
“Kamu memang berbeda dari kelima kakakmu.” Ibu menyeka air mata yang hendak jatuh ke pipinya.
“Berbeda bagaimana maksud ibu?” Aku heran, menggaruk kepala yang tak gatal.
“Mm berbeda dan spesial, kamu tak perlu tahu alasan dari apa yang ibu ucapkan.” Sontak ibu memelukku dan menciumi keningku serta mendoakanku agar tetap menjadi anak yang baik dan tetap berbakti.
Malam itu aku segera masuk ke dalam kamar, meski aku memasang wajah gembira di hadapan kedua orang tuaku, tetap saja nurani kecil tak bisa dibohongi bahwasannya aku merasa gusar tak bisa pergi ke Lombok. Aku menghela nafas yang panjang, ku coba untuk memejamkan mata, namun tak kunjung jua kedua mataku istirahat.
Sekitar hampir tengah malam, aku hanya mendongak ke arah langit-langit dan memikirkan bagaimana caranya aku bisa mendapatkan uang agar aku tetap pergi ke Lombok. Sampai pada saatnya aku tercengang, terdengar percakapan ayah dan ibu di dapur. Di balik tirai kamar, aku menguping pembicaraan mereka lamat-lamat sambil memerhatikan ekspresi ayah dan ibu bercakap-cakap.
“Nung, si bungsu itu memang berbeda ya.” Ayah memulai percakapan.
“Iya, dari sejak awal dia ada di dunia ini memang sudah berbeda. Aku sangat berdosa Mas jika kuingat beberapa belasan tahun yang lalu.” Ibu tampak mengeluarkan sebuah kalimat penyesalan.
“Iya Nung, sebenarnya Ara itu anak yang tidak kita inginkan. Mas masih sangat ingat dulu kita sempat mencari dukun beranak, berusaha bagaimana caranya Nung harus menggugurkan Ara.” Ayah berkata pelan.
“Iya Mas, aku kan sempat minum jamu penggugur kandungan, saat Ara berumur dua bulan sempat dibawa ke dukun beranak juga untuk diaborsi. Tapi, entah kenapa setiap kita akan menuju kediaman dukun itu selalu saja ada halangan.” Ibu bermimik keheranan, aku mengintip dibalik tirai.
“Yoweslah Nung, sudah takdir Allah Ara harus lahir. Lagipula itu kesalahan bodoh di masa lalu.” Ayah menenangkan suasana, ku lihat ayah membuka buku catatannya dan ibu masih saja merapihkan makanan di dapur.
“Iya Mas, lagipula kita berusaha menggugurkan Ara bukan tanpa alasan. Tapi karena aku sudah terlalu tua untuk mempunyai anak lagi, takutnya Ara tidak bisa kita urus, tapi kenyataannya Allah masih memberi kita semua kehidupan dan Ara sudah sebesar dan secantik ini, Ara memang anak yang beda dan spesial.” Ibu meneruskan penjelasan ayah.
Suasana malam itu begitu hening, hanya terdengar suara belalang dan burung hantu di belakang rumah bernyanyi-nyanyi, tapi tidak dengan perasaanku. Entah apa yang aku rasakan saat ini ibarat belati menghujam tepat di dadaku saat ku tahu aku adalah anak yang berusaha untuk diaborsi. Seketika mataku berkaca-kaca, tak sadar air mataku menghujam ke bumi dan tak kuasa aku menahan tangis. Beberapa kali aku menyeka air mata yang jatuh di pipiku dan berusaha untuk memejamkan mata, berusaha untuk tetap selalu berpikir positif.
***
Penyakitku kambuh lagi, sepanjang jalan aku terus menggaruk tangan, eksim yang merajang tubuhku ini mulai menyebar pada bagian kedua sikut, bagian kaki, pundak serta perut. Aku tak kuasa menahan gatalnya, ya Allah aku harus bagaimana? Aku sudah tidak mungkin untuk berkonsolidasi masalah penyakitku pada ibu atau ayah, karena ayah baru saja keluar dari rumah sakit. Ya Allah aku harus bagaimana?
“Perhatian kepada semua teman-teman. Hari ini tepat sekali H-satu minggu keberangkatan kita ke Lombok. Diharapkan kepada semua teman-teman untuk segera melunasi biaya pemberangkatan kita dan saya akan menulis beberapa pengumuman apa saja yang akan kita bawa saat ke Lombok nanti.” Suara lantang Yusup terdengar di seluruh sudut ruangan kelas, memberikan informasi yang membuat serentak semua teman-temanku sorak sorai bergembira, tapi tidak denganku, hanya aku.
“Ra bagaimana, kamu pasti ikut kan?” Pahmi tiba-tiba membangunkan lamunanku.
“Ehh Mi, emm sepertinya aku ikut praktikum tahun depan saja bersama adik tingkat.” Aku tertunduk.
“Hah? Emang ada masalah apa kok sampai memutuskan seperti itu?” Pahmi tercengang kaget mendengar jawabanku yang tidak memuaskan.
“Emm ayahku masuk rumah sakit beberapa minggu yang lalu dan uang tabunganku terpakai untuk menebus ayah.” Mataku berkaca-kaca, berusaha untuk tidak mengeluarkan air mata.
“Innalillahi, oh begitu. Saya sama sekali tidak tahu jika ayah kamu terkena musibah. Saya akan perjuangkan kamu tetap ikut, Ra.” Pahmi turut berduka perihal ayah dan bersemangat agar aku tetap ikut.
“Mi kumohon jangan! Aku tidak mau menyusahkan Prodi dan teman-temanku.” Seketika aku menolak tawaran Pahmi.
“Ra, ini praktikum terakhir kita. Saya tidak mau tahu pokoknya semua harus ikut. Saya akan tetap memperjuangkan kamu, semua anak-anak satu angkatan sudah aman kecuali kamu, pasti dosen dari Prodi tak tinggal diam dan akan memberikan jalan keluarnya.” Pahmi bersikeras.
“Ya…tapi…” Belum selesai aku berucap, Pahmi hilang dibalik tawa riangnya teman-teman sekelas.
Aku menyusul Pahmi, berlari dan terlambat. Ku lihat di balik jendela Pahmi sedang mengadakan obrolan serius dengan para dosen Prodi. Aku tertunduk lemas, mengepalkan kedua tanganku memohon kepada-Nya semoga diberikan jalan yang terbaik.
***
Aku masih terniang percakapan ayah dan ibu semalam. Setelah aku berkontemplasi, aku bertanya pada diriku sendiri dibalik perasaanku yang diselimuti kekhawatiran, kecemasan, dan kebingungan. Apakah benar aku ini seorang yang spesial? Lantas apa buktinya Allah menciptakan aku menjadi orang yang spesial? Apa buktinya? Aku mengeluh. Penyakitku yang kadang membuatku tak nyaman tak kunjung sembuh, genap tujuh tahun lamanya aku didera penyakit ini. Bertahan mengenyam pendidikan pun harus aku yang berjuang sendiri, bahkan sampai pada hari yang aku tunggu-tunggu pergi ke Lombok rupanya gagal karena Allah memberiku rencana lain. Apa spesialnya aku?
Setelah kurenungi beberapa kejadian yang aku alami dalam hidupku, mulai dari kelahiranku yang berbeda dari semua kakakku. Aku anak hampir diaborsi sampai pada saatnya hidupku tak lepas dari sebuah penyakit, ternyata memang benar kata ayah dan ibuku aku adalah anak yang spesial. Ya betul, semua itu terjadi kepadaku karena aku lahir teramat spesial dimata-Mu Tuhan. Bahkan, bidadari disana pun iri karena Engkau menjadikanku makhluk yang begitu spesial. Sampai pada saatnya aku menyadari Kau akan begitu kecewa dan sedih jika aku menyia-nyiakan kasih sayang dari-Mu dan anugrah penobatan aku sebagai makhluk yang teramat spesial. Ya Allah aku baru sadar, Astagfirullah maafkan aku Allah ya Tuhanku, dalam rintihan kekecewaan aku melupakan nikmat-Mu. Aku tak kuasa hingga akhirnya air mata itu keluar dari kedua bola mataku.
“Alhamdulillah kebetulan kamu disini, ayo Ra kamu dipanggil ibu Siti Komariah (Ketua Prodi) untuk berbincang dengan kamu.” Pahmi membuka pintu dan memasang wajah yang penuh kegembiraan memanggilku dengan semangat.
“Ehh.. Iya Mi, siap.” Aku menyeka kedua mataku dan segera masuk ke ruangan Ibu Siti Komariah.
“Ara, ibu sudah tahu apa yang terjadi dengan keadaan keluarga kamu. Justru ibu memanggilmu kemari untuk mengatakan bahwa kamu dibebaskan dari pembayaran praktikum ke Lombok nanti.” Ibu Siti mengatakan kata tersebut dengan senyuman manis.
Sontak aku heran, mataku berbinar percaya tak percaya. Aku menepuk pipi, namun sungguh ini suatu kenyataan.
“Sungguh bu? Saya tidak sedang bermimpi kan?” Aku terperanjat bercampur rasa senang yang tiada tara.
“Iya nak, kami sudah mempertimbangkan dan telah musyawarah dengan keputusan ini. Sekarang kamu siapkan hal apa saja yang akan dibawa untuk praktikum nanti.” Ibu Siti menatapku dengan penuh ramah.
“Baik bu, terima kasih banyak. Sungguh, terima kasih banyak.” Aku mencium tangan Ibu Siti, tersenyum kegirangan dan meninggalkan ruang Prodi dengan hati yang sangat bahagia.
“Mi, terima kasih banyak ya. Berkat bantuan kamu, aku bisa seperti ini.” Aku berterima kasih pada Pahmi.
“Heheheh syukurlah kamu sekarang bisa tersenyum kembali. Semua ini berkat pertolongan Allah Ra, Alhamdulillah.” Pahmi tersenyum.
“Pasti Mi, karena aku teramat spesial.” Aku tersenyum sendiri.
“Hah? Maksudnya?” Pahmi menggaruk kepala yang tak gatal, karena pasti tidak mengerti maksud kalimatku tadi.
“Ah tidak Mi, sudahlah lupakan saja hehehe.” Aku menutup pembicaraan dengan Pahmi.
***
Senin, 16 Maret 2014
Lombok, Nusa Tenggara Barat
Maha Besar Allah, akhirnya aku bisa menginjakkan kaki di pulau terindah di Nusa Tenggara Barat, Lombok.
 Allah, terima kasih banyak telah menghadirkan dua malaikat pelindungku yang teramat mencintaiku dan telah menjadikanku makhluk-Mu yang teramat spesial dan berbeda.
Allah, ku mohon jaga selalu kedua malaikat yang selalu menjagaku dan membesarkanku dari buaian sampai aku sebesar ini.
Allah, ajari aku memberi sebelum menuntut, berpikir sebelum bertindak, santun dalam berbicara, tenang dikala gundah, diam ketika emosi melanda dan selalu bersahaja diatas kebenaran serta bersabar dalam setiap ujian.
Allah, jadikan aku selembut Abu Bakar, sepintar Ali, sebijaksana Umar, sedermawan Utsman, sesederhana Bilal, setegar Khalid, sesejuk embun di pagi hari, sejernih air mata ‘Ainun Mardhiyah, sehening malam dalam sujud Qiyamullail, dan selayaknya mentari yang tak pernah bosan menyinari bumi.
Allah, terima kasih atas semua yang Engkau berikan kepadaku ….

By : Alkhawari

Ilustrasi : assets-a2.kompasiana.com
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Label

About Blog Project

Arsip Blog

  • ►  2016 (3)
    • ►  11/27 - 12/04 (1)
    • ►  05/22 - 05/29 (1)
    • ►  01/10 - 01/17 (1)
  • ▼  2015 (19)
    • ▼  12/27 - 01/03 (19)
      • Pewajaran dari Ketidakwajaran : Tukang Parkir Ilegal
      • Seuntai Tasbih dan Kalung Salib
      • Siluet Senja
      • Anti Mainstream Manifestasi Manusia Itu Unik
      • Pendidikan Resolusi Konflik Melalui Metode Drama d...
      • Industri Budaya : Apakah Kau di Pihak Rakyat ?
      • Kenapa Anti Politik ? "Padahal Dipolototan Ge Ngag...
      • Buruh Rawan Permisivisme
      • Purwakarta Estetik : Kesenian Domyak
      • Dialog Rindu
      • Revitalisasi Indentitas Nasional di Aceh Melalui E...
      • Selamatkan Nasib Tki Jeddah dengan Internalisasi P...
      • Rapor Merah Abdul
      • Aku Teramat Spesial
      • Pergulatan "Warna" : Fenomena Perseturuan Rivalita...
      • Segelas Lemon Tea Mengajarkan Organisasi
      • Orang di Pojokkan
      • Panji Manusia Silver "Nyasar" ke Kota Kembang : Fe...
      • Berpaling

Instagram

Copyright © 2016 1994 Klikometer Blog. Created by OddThemes | Distributed By Gooyaabi Templates