Aku Teramat Spesial

Sudah tujuh tahun lamanya aku mengidap suatu penyakit, entah penyakit apa ini namanya, setiap dokter pasti berbeda-beda mendiagnosa penyakit ini. Sudah bosan juga rasanya setiap dokter dan rumah sakit aku datangi, tapi tak kunjung jua sembuh penyakitku. Masih teringat apa yang dikatakan dokter pertama kali aku mengidap penyakit ini, beliau mengatakan ini hanya penyakit kulit dan solusinya jangan makan telur atau ikan asin. Bersusah payah aku mencoba untuk tidak mengonsumsi makanan kesukaanku itu, tapi tetap saja setelah penyakit itu sembuh, tumbuh kembali penyakit itu pada bagian tubuh yang lainnya. Begitu pun seterusnya, sampai dari rumah sakit yang ternama pun aku kunjungi, penyakitku tak kunjung membaik. Hanya sembuh sementara dan tumbuh di bagian tubuh yang lainnya, dokter bilang itu penyakit eksim.
Maka tak ayal terkadang semangatku fluktuasi, naik turun ibarat roller coster di taman bermain, berputar bak bianglala dan aku hanya berharap suatu hari nanti ada titik temu dibalik semua cobaan yang menimpa kepadaku.
“Bu, penyakitku kambuh lagi.” Aku menunjuk pada bagian tubuh yang terkena eksim, tepat pada sikut sebelah kanan.
“Aduh, kok bisa tumbuh lagi? Kita kan sudah periksa ke dokter beberapa kali.” Ibu mengaduh sambil terus melipat pakaian ayah yang menumpuk di atas mesin cuci.
“Iya bu, ini sungguh terasa sangat gatal.” Aku menggaruk bagian yang terkena eksim.
“Nak, maafkan ibu. Ibu tidak bisa membawamu ke dokter lagi, keuangan kita sedang menurun.” Ibu mengerutkan dahi, kecewa karena tidak bisa membawaku ke dokter.
“Iya bu, tidak apa-apa.” Aku tersenyum dan memeluk ibu.
Ibu dan ayahku, mereka adalah sosok malaikat yang Allah kirimkan kepadaku. Ayahku yang kian hari kian menua dan tahun ini genap ayahku berumur 64th, sedangkan ibuku berumur 63th. Terkadang, aku sedikit pilu melihat kondisi kedua orang tuaku, dengan kondisi sudah tua, ayahku harus tetap mencari nafkah untuk bisa membayar hutang dan menghidupi kami bertiga.
***
Suasana pagi ini tampak lengang, sang surya menyapaku di pagi hari. Hari ini aku sangat gembira karena sebentar lagi UAS semester ganjil, begitulah pikirku. Seperti biasa setiap pagi aku menikmati suasana dalam bis, bis Damri Leuwi Panjang-Ledeng. Kediamanku tampaklah lumayan jauh dengan lokasi kampus, sehingga aku harus pulang pergi menggunakan kendaraan umum. Tapi, tak apa aku begitu menikmatinya.
“Ra, praktikum semester ini kita pergi ke Lombok dan Bali.” Anur, sahabat terbaikku memberikan informasi terbaru.
“Oh iya? Aduh…” Aku tercengang dan tampak risau.
“Kamu kenapa Ra? Ini pasti akan menjadi perjalanan kita yang menyenangkan. Kamu pasti ikut kan?” Anur tersenyum, menepuk punggung sebelah kananku.
“Em ya Insya Allah Nur. Doakan saja.” Aku membalas dengan senyum dan mimik tak yakin.
Sebenarnya memang sangatlah aku tunggu praktikum ke luar pulau Jawa, terlebih aku bagai katak dalam tempurung yang tak pernah pergi jauh. Sepertinya memang itu akan menjadi perjalanan yang amat menyenangkan, tapi tidak dengan kondisiku yang sekarang. Aku pesimis, tak mungkin aku meminta bantuan kedua orang tuaku untuk membicarakan perkara ini.
Terlihat seorang laki-laki dengan perawakan pendek, gendut dengan paras rambut yang rapih, memakai kemeja bergaris paduan warna merah marun dan putih yang tepat dengan warna kulitnya yang agak kecoklatan membuatnya tampak sedikit elegan dan gagah, dialah Pahmi teman terbaikku sekaligus ketua angkatan kami.
“Miiiiiii….. Mau kemana?” Aku melambaikan tangan kepada Pahmi, berharap dia mengerti maksudku.
“Araaaa…. Iya kebetulan saya bertemu dengan kamu. Saya mau ke Prodi Ra, kamu mau ikut?” Pahmi mendatangiku dengan langkah yang cepat.
“Hmmm tidak Mi. Oia aku panggil kamu hanya ingin menanyakan, apa betul praktikum semester sekarang pergi ke Lombok dan berapa sih biayanya?” Aku bertanya tak sabar.
“Iya Ra, biayanya sekitar dua juta lima ratus. Kamu rajin menabung ya, pokoknya saya menginginkan kita semua satu angkatan ikut praktikum semua, jangan bilang gak ikut gara-gara masalah biaya. Prodi pasti bantu.” Pahmi bersemangat dan memberikan motivasi bak motivator ulung.
“Iya mudah-mudahan Mi, hehe. Aamiin…” Aku menjawab dengan rasa tak yakin, sama seperti jawabanku kepada Anur.
Sebenarnya aku sangat menginginkan sekali untuk pergi ke Lombok, apalagi ini adalah praktikum yang terakhir kalinya. Tapi apalah daya, uang sebesar itu bagiku tak semudah membalikan tahu di tempat penggorengan, untuk biaya kuliah dan bekal sehari-hari saja aku hanya mengandalkan uang beasiswa. Oh Tuhan bagaimana ini….
Ku lihat buku berwarna pink, buku tabunganku. Terlihat deretan angka yang masih menunjukkan jauh mencapai target untuk pergi ke Lombok. Aku terdiam, diamku bercampur resah dan rasa kecewa. Lantas ku pandangi buku itu lamat-lamat, pada akhirnya aku menemukan sebuah ide.
***
“Ra, kamu belanja keripik banyak sekali.” Ibu sambil menenteng cangkir berisi teh manis panas untuk ayah, melihatku keheranan dengan keripik yang numpuk di samping kursi depan rumah.
“Iya bu, Ara mulai besok jualan keripik.” Aku menatap ibu dengan mimik semangat dan meyakinkan.
“Wah anak yang rajin. Memangnya ada acara apa, gak ada hujan gak ada angin kamu tiba-tiba berjualan?” Ibu duduk lesehan, membantuku membungkus keripik yang telah ku timbang.
“Iya bu untuk praktikum ke Lombok bulan Maret nanti. Doakan Ara ya bu semoga uangnya cukup.” Aku memegang tangan ibu, meminta restu agar daganganku ini barokah.
Subhanallah nak, pasti ibu doakan kamu sayang.” Ibu mengusap rambutku dengan penuh kehangatan kasih sayang.
“Ara, maafkan ayah belum bisa menjadi ayah yang terbaik untuk kamu dan kakak-kakak kamu.” Ayah muncul dibalik tirai, membawa cangkir berisi teh panas kemudian duduk disebelahku.
“Ayah, tak masalah. Ara yakin Ara bisa, ayah doakan Ara ya.” Aku terus membungkus keripik yang hendak ku lipat dengan lilin sambil terus meyakinkan ayah bahwa aku baik-baik saja.
Aku tak pernah menunjukkan ekspresi sedih kepada kedua orang tuaku, karena aku sendiri yang lebih tau dan faham kondisi keluargaku seperti apa. Memang, aku mempunyai lima orang kakak. Dua kakak laki-laki dan tiga orang kakak perempuan, tapi namanya juga seorang kakak meskipun kami semua saudara kandung, mereka semua tidak bisa membantuku secara maksimal dan seluruh keluargaku hanya memberikan dukungan moral supaya aku tetap semangat kuliah. Tak apa, aku memang bertekad untuk terus melanjutkan pendidikan, untuk kebahagiaan kedua orang tuaku.
“Bu, keripiknya sudah selesai Ara bungkus dan menjadi seratus bungkus. Doakan ya bu, ke Lombok sekitar tiga bulan lagi. Semoga apa yang Ara lakukan Allah meridhoinya.” Aku memeluk ibu.
“Insya Allah nak, Allah pasti mempermudah usahamu ini.” Ibu mengusap lembut rambut dan punggungku.
***
Sudah dua bulan setengah lamanya aku berjualan keripik, uang pun sudah terkumpul hampir mencapai angka yang ku harapkan. Aku teramat gembira dengan semua usahaku ini, keripik yang aku jual laku keras dipasaran, bahkan beberapa jurusan yang ada di fakultas sengaja memesan langsung keripik dariku jika ada acara-acara tertentu.
Maha Besar Allah, yang selalu membantu dan menjagaku di setiap urusan. Tapi, angka-angka yang ada di tabungan itu tak seindah pada kenyataannya. Ayahku jatuh sakit dan mengharuskan ayah dibawa ke rumah sakit. Semua kakakku patungan untuk menebus ayah dari rumah sakit, begitupula aku. Tabunganku terkuras, bahkan angka-angka itu kini kian jauh dari harapan.
“Ara, maafkan ibu yang belum bisa membahagiakanmu. Tabungan untuk pergi praktikum, malah habis untuk menebus ayahmu nak.” Ibu menatapku, terlihat uban yang memutih itu kian hari kian banyak, kerutan di dahi itu kian hari kian tebal dan mata ibu berkaca-kaca.
“Bu, sudahlah. Lebih baik ayah sembuh dan itu sudah merupakan kebahagiaan bagi Ara, kita semua bisa berkumpul kembali di rumah yang sederhana dan hangat ini.” Aku tersenyum manis dan menutup buku tabunganku.
“Kamu memang berbeda dari kelima kakakmu.” Ibu menyeka air mata yang hendak jatuh ke pipinya.
“Berbeda bagaimana maksud ibu?” Aku heran, menggaruk kepala yang tak gatal.
“Mm berbeda dan spesial, kamu tak perlu tahu alasan dari apa yang ibu ucapkan.” Sontak ibu memelukku dan menciumi keningku serta mendoakanku agar tetap menjadi anak yang baik dan tetap berbakti.
Malam itu aku segera masuk ke dalam kamar, meski aku memasang wajah gembira di hadapan kedua orang tuaku, tetap saja nurani kecil tak bisa dibohongi bahwasannya aku merasa gusar tak bisa pergi ke Lombok. Aku menghela nafas yang panjang, ku coba untuk memejamkan mata, namun tak kunjung jua kedua mataku istirahat.
Sekitar hampir tengah malam, aku hanya mendongak ke arah langit-langit dan memikirkan bagaimana caranya aku bisa mendapatkan uang agar aku tetap pergi ke Lombok. Sampai pada saatnya aku tercengang, terdengar percakapan ayah dan ibu di dapur. Di balik tirai kamar, aku menguping pembicaraan mereka lamat-lamat sambil memerhatikan ekspresi ayah dan ibu bercakap-cakap.
“Nung, si bungsu itu memang berbeda ya.” Ayah memulai percakapan.
“Iya, dari sejak awal dia ada di dunia ini memang sudah berbeda. Aku sangat berdosa Mas jika kuingat beberapa belasan tahun yang lalu.” Ibu tampak mengeluarkan sebuah kalimat penyesalan.
“Iya Nung, sebenarnya Ara itu anak yang tidak kita inginkan. Mas masih sangat ingat dulu kita sempat mencari dukun beranak, berusaha bagaimana caranya Nung harus menggugurkan Ara.” Ayah berkata pelan.
“Iya Mas, aku kan sempat minum jamu penggugur kandungan, saat Ara berumur dua bulan sempat dibawa ke dukun beranak juga untuk diaborsi. Tapi, entah kenapa setiap kita akan menuju kediaman dukun itu selalu saja ada halangan.” Ibu bermimik keheranan, aku mengintip dibalik tirai.
Yoweslah Nung, sudah takdir Allah Ara harus lahir. Lagipula itu kesalahan bodoh di masa lalu.” Ayah menenangkan suasana, ku lihat ayah membuka buku catatannya dan ibu masih saja merapihkan makanan di dapur.
“Iya Mas, lagipula kita berusaha menggugurkan Ara bukan tanpa alasan. Tapi karena aku sudah terlalu tua untuk mempunyai anak lagi, takutnya Ara tidak bisa kita urus, tapi kenyataannya Allah masih memberi kita semua kehidupan dan Ara sudah sebesar dan secantik ini, Ara memang anak yang beda dan spesial.” Ibu meneruskan penjelasan ayah.
Suasana malam itu begitu hening, hanya terdengar suara belalang dan burung hantu di belakang rumah bernyanyi-nyanyi, tapi tidak dengan perasaanku. Entah apa yang aku rasakan saat ini ibarat belati menghujam tepat di dadaku saat ku tahu aku adalah anak yang berusaha untuk diaborsi. Seketika mataku berkaca-kaca, tak sadar air mataku menghujam ke bumi dan tak kuasa aku menahan tangis. Beberapa kali aku menyeka air mata yang jatuh di pipiku dan berusaha untuk memejamkan mata, berusaha untuk tetap selalu berpikir positif.
***
Penyakitku kambuh lagi, sepanjang jalan aku terus menggaruk tangan, eksim yang merajang tubuhku ini mulai menyebar pada bagian kedua sikut, bagian kaki, pundak serta perut. Aku tak kuasa menahan gatalnya, ya Allah aku harus bagaimana? Aku sudah tidak mungkin untuk berkonsolidasi masalah penyakitku pada ibu atau ayah, karena ayah baru saja keluar dari rumah sakit. Ya Allah aku harus bagaimana?
“Perhatian kepada semua teman-teman. Hari ini tepat sekali H-satu minggu keberangkatan kita ke Lombok. Diharapkan kepada semua teman-teman untuk segera melunasi biaya pemberangkatan kita dan saya akan menulis beberapa pengumuman apa saja yang akan kita bawa saat ke Lombok nanti.” Suara lantang Yusup terdengar di seluruh sudut ruangan kelas, memberikan informasi yang membuat serentak semua teman-temanku sorak sorai bergembira, tapi tidak denganku, hanya aku.
“Ra bagaimana, kamu pasti ikut kan?” Pahmi tiba-tiba membangunkan lamunanku.
“Ehh Mi, emm sepertinya aku ikut praktikum tahun depan saja bersama adik tingkat.” Aku tertunduk.
“Hah? Emang ada masalah apa kok sampai memutuskan seperti itu?” Pahmi tercengang kaget mendengar jawabanku yang tidak memuaskan.
“Emm ayahku masuk rumah sakit beberapa minggu yang lalu dan uang tabunganku terpakai untuk menebus ayah.” Mataku berkaca-kaca, berusaha untuk tidak mengeluarkan air mata.
Innalillahi, oh begitu. Saya sama sekali tidak tahu jika ayah kamu terkena musibah. Saya akan perjuangkan kamu tetap ikut, Ra.” Pahmi turut berduka perihal ayah dan bersemangat agar aku tetap ikut.
“Mi kumohon jangan! Aku tidak mau menyusahkan Prodi dan teman-temanku.” Seketika aku menolak tawaran Pahmi.
“Ra, ini praktikum terakhir kita. Saya tidak mau tahu pokoknya semua harus ikut. Saya akan tetap memperjuangkan kamu, semua anak-anak satu angkatan sudah aman kecuali kamu, pasti dosen dari Prodi tak tinggal diam dan akan memberikan jalan keluarnya.” Pahmi bersikeras.
“Ya…tapi…” Belum selesai aku berucap, Pahmi hilang dibalik tawa riangnya teman-teman sekelas.
Aku menyusul Pahmi, berlari dan terlambat. Ku lihat di balik jendela Pahmi sedang mengadakan obrolan serius dengan para dosen Prodi. Aku tertunduk lemas, mengepalkan kedua tanganku memohon kepada-Nya semoga diberikan jalan yang terbaik.
***
Aku masih terniang percakapan ayah dan ibu semalam. Setelah aku berkontemplasi, aku bertanya pada diriku sendiri dibalik perasaanku yang diselimuti kekhawatiran, kecemasan, dan kebingungan. Apakah benar aku ini seorang yang spesial? Lantas apa buktinya Allah menciptakan aku menjadi orang yang spesial? Apa buktinya? Aku mengeluh. Penyakitku yang kadang membuatku tak nyaman tak kunjung sembuh, genap tujuh tahun lamanya aku didera penyakit ini. Bertahan mengenyam pendidikan pun harus aku yang berjuang sendiri, bahkan sampai pada hari yang aku tunggu-tunggu pergi ke Lombok rupanya gagal karena Allah memberiku rencana lain. Apa spesialnya aku?
Setelah kurenungi beberapa kejadian yang aku alami dalam hidupku, mulai dari kelahiranku yang berbeda dari semua kakakku. Aku anak hampir diaborsi sampai pada saatnya hidupku tak lepas dari sebuah penyakit, ternyata memang benar kata ayah dan ibuku aku adalah anak yang spesial. Ya betul, semua itu terjadi kepadaku karena aku lahir teramat spesial dimata-Mu Tuhan. Bahkan, bidadari disana pun iri karena Engkau menjadikanku makhluk yang begitu spesial. Sampai pada saatnya aku menyadari Kau akan begitu kecewa dan sedih jika aku menyia-nyiakan kasih sayang dari-Mu dan anugrah penobatan aku sebagai makhluk yang teramat spesial. Ya Allah aku baru sadar, Astagfirullah maafkan aku Allah ya Tuhanku, dalam rintihan kekecewaan aku melupakan nikmat-Mu. Aku tak kuasa hingga akhirnya air mata itu keluar dari kedua bola mataku.
Alhamdulillah kebetulan kamu disini, ayo Ra kamu dipanggil ibu Siti Komariah (Ketua Prodi) untuk berbincang dengan kamu.” Pahmi membuka pintu dan memasang wajah yang penuh kegembiraan memanggilku dengan semangat.
“Ehh.. Iya Mi, siap.” Aku menyeka kedua mataku dan segera masuk ke ruangan Ibu Siti Komariah.
“Ara, ibu sudah tahu apa yang terjadi dengan keadaan keluarga kamu. Justru ibu memanggilmu kemari untuk mengatakan bahwa kamu dibebaskan dari pembayaran praktikum ke Lombok nanti.” Ibu Siti mengatakan kata tersebut dengan senyuman manis.
Sontak aku heran, mataku berbinar percaya tak percaya. Aku menepuk pipi, namun sungguh ini suatu kenyataan.
“Sungguh bu? Saya tidak sedang bermimpi kan?” Aku terperanjat bercampur rasa senang yang tiada tara.
“Iya nak, kami sudah mempertimbangkan dan telah musyawarah dengan keputusan ini. Sekarang kamu siapkan hal apa saja yang akan dibawa untuk praktikum nanti.” Ibu Siti menatapku dengan penuh ramah.
“Baik bu, terima kasih banyak. Sungguh, terima kasih banyak.” Aku mencium tangan Ibu Siti, tersenyum kegirangan dan meninggalkan ruang Prodi dengan hati yang sangat bahagia.
“Mi, terima kasih banyak ya. Berkat bantuan kamu, aku bisa seperti ini.” Aku berterima kasih pada Pahmi.
“Heheheh syukurlah kamu sekarang bisa tersenyum kembali. Semua ini berkat pertolongan Allah Ra, Alhamdulillah.” Pahmi tersenyum.
“Pasti Mi, karena aku teramat spesial.” Aku tersenyum sendiri.
“Hah? Maksudnya?” Pahmi menggaruk kepala yang tak gatal, karena pasti tidak mengerti maksud kalimatku tadi.
“Ah tidak Mi, sudahlah lupakan saja hehehe.” Aku menutup pembicaraan dengan Pahmi.
***
Senin, 16 Maret 2014
Lombok, Nusa Tenggara Barat
Maha Besar Allah, akhirnya aku bisa menginjakkan kaki di pulau terindah di Nusa Tenggara Barat, Lombok.
 Allah, terima kasih banyak telah menghadirkan dua malaikat pelindungku yang teramat mencintaiku dan telah menjadikanku makhluk-Mu yang teramat spesial dan berbeda.
Allah, ku mohon jaga selalu kedua malaikat yang selalu menjagaku dan membesarkanku dari buaian sampai aku sebesar ini.
Allah, ajari aku memberi sebelum menuntut, berpikir sebelum bertindak, santun dalam berbicara, tenang dikala gundah, diam ketika emosi melanda dan selalu bersahaja diatas kebenaran serta bersabar dalam setiap ujian.
Allah, jadikan aku selembut Abu Bakar, sepintar Ali, sebijaksana Umar, sedermawan Utsman, sesederhana Bilal, setegar Khalid, sesejuk embun di pagi hari, sejernih air mata ‘Ainun Mardhiyah, sehening malam dalam sujud Qiyamullail, dan selayaknya mentari yang tak pernah bosan menyinari bumi.
Allah, terima kasih atas semua yang Engkau berikan kepadaku ….

By : Alkhawari

Ilustrasi : assets-a2.kompasiana.com

Tags:

Share:

0 komentar