Revitalisasi Indentitas Nasional di Aceh Melalui Etnopedagogik



Aceh merupakan salah satu provinsi yang identik dengan konservasi nilai – nila agama islam. Provinsi yang menjujung tinggi nila – nila agama islam ini di beberapa tahun silam pernah mengalami pergolakan separatis dengan para gerilyawanya yang tergabung dalam GAM (Gerakan Aceh Merdeka), berbicara tentang Aceh di beberapa tahun silam tak dapat terlepas dari perbincangan GAM, pemberontakan tersebut didasari adanya kelukaan di Tanah Aceh di masa lalu
yang masih membekas, yakni ketidakpuasan rakyat Aceh terhadap pemerintah semasa Presiden RI pertama Ir. Soekarno. Pada masa itu Aceh ingin mengurus rumah tangga pemerintahannya yang berasaskan pada syariat islam, namun hal itu tak terwujud karena Aceh dilebur ke dalam Provinsi Sumatera Utara sehingga pada beberapa tahun silam sempat gencar adanya pergerakan militer di Aceh antara pasukan TNI dan GAM.
Pemerintah dan perwakilan GAM pada akhirnya melakukan konsiliasi untuk menangani permasalahan ini melalui beberapa kali jalur diplomasi dan militer. Setelah ditemukan kesepakatan akhirnya pergerakan GAM ini dihentikan dan Aceh kembali normal. Lantas apakah sampai itu saja penangan masalah GAM ini ? Aceh memang sudah kembali seperti semula, namun tidak menutup kemungkinan percikan – percikan luka Aceh masih ada, maka dari itu sebagai langkah preventif  mesti ada revitalisasi identitas nasional yang dapat ditempuh melalui jalur pendidikan. Ada istilah pemuda & pemudi adalah generasi penerus bangsa, penerus disini bukan berarti meneruskan gerakan separatis yang ada di Aceh tetapi mereka yang dapat meluruskan dan mewujudkan kesatuan Aceh dan NKRI oleh karena itu pendidikan adalah salah satu sendi utama untuk membentuk kesadaran identitas nasional pemuda dan pemudi di Aceh.
Etnopedagogik salah satu metode yang tepat untuk menangani separatisme karena memang etnopedagogik ini adalah praktik pendidikan yang berbasis kearifan lokal, dengan harapan lembaga pendidikan yang menerapkan etnopedagogik akan mewujudkan legitimasi kebudayaan daerah oleh peserta didik secara sadar akan nilai – nilai budaya yang ada di sekitarnya, legitimasi tersebut bukan mengarahkan kepada etnosentrisme dan primodialisme, namun substansi yang diharapkan agar adanya harmonisasi dan persatuan serta menghilangkan rasa pesimis dan kecemburuan sosial terhadap kebudayaan lain. Etnopedagogik selain pusat pembelajaran diharapkan menjadi pusat komunikasi antar warga masyarakat untuk bertukar informasi demi perbaikan pelaksanaan. Adanya lahan komunikasi dengan masyarakat dapat juga dimanfaatkan untuk pendekatan kepada masyarakat untuk membangun rasa kepemilikan terhadap tanah air atau nasionalisme. Untuk di Aceh sendiri kita dapat mengadopsi nilai – nilai agama Islam karena memang seperti yang telah dipaparkan sebelumnya bahwa Aceh adalah Provinsi yang menjujung tinggi nilai – nilai agama Islam.
Etnopedagogik tidak sampai memperkenalkan budaya lokal saja tetapi budaya nasional dan global. Harapan dari memperkenalkan budaya lokal, nasional, dan global yakni adanya integritas dan menghindarkan dari keterbelakangan perkembangan dan ancaman zaman. Konten multikultural yang tertatanam di etnopedagogik ini dapat dijadikan bahan stimulus toleransi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sehingga gerakan – gerakan separatisme dapat diredam karena munculnya hal tersebut dimungkinkan pada masa kini adanya kecemburuan sosial dan hilangnya mutual respect, maka dari itu  kesadaran akan nilai keragaman budaya beserta kekayaan didalamnya dan kesadaran identitas nasional hendaknya segera diberlakukan agar tercipta rasa memiliki terhadap NKRI. 

Media massa dapat ambil andil dalam pembentukan mutual respect dan menyokong keberlangsungan pelaksanaan etnopedagogik, karena memang media massa juga memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan mutual respect di kalangan masyarakat, tak dapat kita tampikan bahwa media massa dapat mengkonstruksi pemikiran dan perilaku masyarakat secara luas. Media massa terutama telivisi dapat menampilkan tontonan edukatif yang bersifat etnopedagogik dengan begitu tontonan di televisi tersebut dapat menjadi partner yang serasi lembaga pendidikan dalam melaksanakan etnopedagogik sebagai langkah preventif terjadinya gerakan – gerakan separatisme.  

By: Manusia Abad-45

Ilustrasi :  http://www.thejakartapost.com

Tags:

Share:

0 komentar