Selamatkan Nasib Tki Jeddah dengan Internalisasi Penidikan Moral & Jiwa Religius


TKI merupakan pahlawan devisa, dan TKI adalah tenaga kerja yang professional,begitulah cara halus memberikan sebuah label untuk para TKI, namun pada realita yang ada TKI adalah pahlawan devisa yang terhina, dan TKI adalah tenaga kerja yang professional yang dalam tanda kutip rela melakukan apa saja untuk membahagiakan majikannya guna memperoleh simpati berupa uang. Selain itu banyak kabar yang beredar bahwa bekerja di luar negeri memberikan jaminan materi yang luar biasa yang dapat memperbaiki sendi kehidupan keluarga dengan adanya kabar manis seperti itu masyarakat di Indonesia berbondong - bonding untuk menjadi TKI segala cara mereka tempuh untuk pergi ke luar negeri mulai dari cara yang legal sampai dengan yang illegal.Ironisnya banyak TKI
illegal maka nampaknya kita  tak asing ketika mendengar TKI diperlakukan tidak manusia atau melakukan tindak kriminalitas. Kabar terkini yang tengah marak yakni peristiwa pembekaran KJRI oleh TKI di Jeddah teka - teki yang menjadi akar masalah dapat ditinjau dari dua perspektif, pertama perspektif TKI yakni petugas KJRI yang tidak cekatan sedangkan dari pihak KJRI tentunya bersebrangan dengan pernyataan para TKI pihak KJRI menyatakan sudah optimal namun ada provokator yang memprakarsai peristiwa ini. Kedua perspektif sudah barang tentu benar namun hakekat kebenarnya tergantung keberpihakkan saja. Namun pemicu lain sebagai sebab meledaknya antrian di KJRI Jeddah yang berujung pembakaran KJRI bisa saja karena faktor psikologis para TKI yang sudah tidak tahan dengan kondisi hidup di Jeddah yang hanya sebagai Gelandangan atau menjadi wanita penghibur di Jeddah.
Mengapa para TKI tersebut bisa menjadi gelandangan atau wanita penghibur ?, hal ini tak terlepas dari ketidak tegasan kedutaan Indonesia sendiri diindikasikan bahwa hal ini telah tercampuri KKN didalam kedutaan Indonesia mengapa demikian ? karena ketika para TKI  Indonesia mengalami perilaku yang tidak senonoh oleh majikanya, mereka langsung mendatangi pihak Indonesia dan membawa pengacara yang selebihnya mengajak untuk berdamai. Selain itu kita tidak hanya memandang salah pihak kedutaan Indonesia saja, namun harus juga menelusuri apakah TKI tersebut merupakan TKI yang legal atau illegal, apabila illegal memang sudah menjadi resiko TKI tersebut logikanya TKI legal saja banyak diperlakukan tidak manusiawi apalagi TKI yang illegal. Hikmah dari peristiwa tersebut yakni memang sudah seharusnya pemerintah dan calon TKI membenah diri agar peristiwa ini tidak terulang kembali.
Dalam mengatasi permasalahan TKI ini pemerintah hendaknya memberlakukan sosialisasi tata cara menjadi TKI yang legal dan tidak mempersulit prosesnya namun selektif selain itu sebagai pembekalan para TKI pemerintah melalui lembaga pelatihan untuk para TKI tidak hanya memberikan bekal keterampilan bekerja saja namun juga internalisasikan pendidikan moral dan jiwa religius karena melihat dari peristiwa di Jeddah dan nasib malang TKI di Jeddah yang menjadi gelandangan dan wanita penghibur merupakan sebuah kemerosotan moral dan nilai religi para TKI terlepas dari tindakan kedutaan Indonesia yang lamban. Pemerintah yang berkerja sama dengan balai pelatihan untuk bekerja di luar negeri bersinergis dalam menentukan syarat layak menjadi TKI melalui internalisasi pendidikan moral dan jiwa religious ini diharapkan syarat kelayakan menjadi TKI yakni seseorang yang telah dianggap memenuhi kompetensi berbentuk keterampilan kerja, dan yang berakhlak mulia serta berjiwa religius apabila ketiga hal tersebut sudah terpenuhi oleh calon TKI maka  dapat diberangkatkan.
Mengapa moralitas dan jiwa yang religius dijadikan syarat kelayakan menjadi TKI ? Coba kita analisis apabila meninjau dari peristiwa pembakaran KJRI di Jeddah dan beredarnya kabar TKI banyak yang menjadi wanita penghibur di Jeddah hal itu merupakan kemerosotan moral dan nilai religi yang lemah, mari kita bahas pertama yakni pembakaran KJRI di Jeddah apabila para TKI sudah bermoral hal itu tidak akan terjadi sekalipun ada provokator karena mereka akan merasa malu ketika melakukan tindakkan kriminal sehingga secara tidak langsung mereka sudah terinternalisasi dalam menjaga harkat martabat negaranya. Selain itu bagaimana nasib mereka yang diperkosa dan dibuang oleh majikanya sehingga memilih sebagai menjadi gelandangan dan wanita penghibur apabila mereka berpegang teguh pada moral dan berjiwa religius mereka tidak akan terjerumus pada hal seperti itu, karena dalam agama juga sudah dijelaskan bahwa tangan diatas lebih baik dari pada tangan dibawah pernyataan tersebut tertuntuk para gelandangan, hakikatnya Tuhan tidak akan merubah nasibnya tanpa usaha yang dilakukanya dalam artian usaha yang positif, sedangkan untuk para wanita penghibur jika moral dan jiwa religius sudah melekat didiri mereka hal ini tidak akan terjadi sekalipun mereka dalam keadaan paling sulit sekalipun dengan adanya jiwa religius mereka akan tersadar bahwa mereka hidup di dunia tak sendiri dan masih ada Tuhan yang menjaga dan memberikan rezeki untukknya. Pada intinya internalisasi pendidikan moral dan jiwa religius ini yakni membentuk TKI yang terhormat yang dapat menjaga harkat martabat dirinya, keluarganya, dan bangsa serta negaranya, dan menjadikan TKI ini sadar akan Tuhanya yang akan senantiasa membantu dalam keadaan apapun sekalipun ada dalam keadaan tersulit. 

By: Manusia Abad-45

Ilustrasi : http://sidomi.com/

Tags:

Share:

0 komentar